Jumat, 20 April 2018

Muara dan mata air cinta

Begitu dalam makna yang tersirat diiringi lantunan kalam Ilahi Rabbi, rintik hujan di pagi itu menambah suasana teramat sakral. tak henti-henti dzikir terlantun mengobati getaran syahdu.
kali ini, cinta tak butuh banyak ungkapan, pemaparan bahkan penjelasan, hanya perlu hati yang teguh menghadapi suasana dramatis penuh romantis didepan penghulu.
sesaat setelah sambutan, terlihat penghulu datang ditengah-tengah hadirin dan undangan, mengisyaratkan akan disegerakannya Akad pernikahan.
kesunyian itu memembawa lamunan pada masa lalu yang kian panjang dan berliku. betapa banyak Do'a yang terpanjatkan serta harapan panjang kini mendapat jawaban.
Tujuh tahun lebih penantian dan harapan ini, terbayar oleh Akad suci yang di saksikan dan didengarkan semua hadirin dan undangan.

Kini rindu telah
rasa yang begitu deras tak terbendung, ibarat air pada permukaan, terjadi luapan dan mencari alirannya sendiri. rasa itu terus mengalir dan akan menemukan titik temunya sendiri.
bagai gerimis yang jatuh bertaburan, membasahi pepohonan untuk menyegarkan. sedikit tapi berkelanjutan. memberikan keteduhan pada burung-burung yang hinggap. memberi kenyamanan untuk bersandar pada hati pilu. meski tak dapat dimiliki tapi memberi manfaat dan arti lebih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar