Minggu, 20 Desember 2015

Air mata emak

       
           Siang itu, terdengar suara dering telfon  membangunkanku dari lamunan. Ku lihat layar Hp ku ternyata nomor baru. Ku angkat saja karena rasa ingin tahu. terdengar suara emak sedang mengucap salam. Lalu ku jawab sambil tersenyum. Emak bertanya tentang kabar ku karena mungkin menghawatirkanya. Sambil tersenyum kukatakan pada emak “ baik-baik saja mak”.  “Nak, emak dengar badan kamu semakin kurus kering. Emak memimpikanmu selama tiga hari ini berturut-turut. Apa yang terjadi padamu nak” ? Tanya emak. “taka apa-apa mak, memang aku seperti ini dari dulu”. Candaku pada emak. “ Nak, emak dengar dari kakak mu kalau kamu sering tidur dan tidak pernah cari kerja. Kalau bisa jangan terlalu banyakin tidurnya karena emak pengen ke Jakarta dibulan puasa bersama kalian. Nanti siapa yang mau bantu ongkosin emak” Tanya emak dengan nada bercanda. Pertanyaan ini begitu sulit aku jawab lalu kuberikan hand phone kepada kakak ku. Air mataku tertumpah begitu saja tak kuasa menjawab pertanyaan emak yang begitu sederhana.

Aku memang tak sepandai saudara-saudaraku untuk membahagiakan emak. Aku mulai teringat betapa sering kata-kataku melukai hati emak pada saat aku masih tinggal bersama emak dalam satu rumah sampai meneteskan air mata emak untuk beberapa kali. Semua mulai tergambar utuh.betapa aku selalu menyia-nyiakan emak saat aku senang dan bahagia. Tetapi emak selalu memperdulikanku saat aku begitu terpuruk dalam kesulitan.

          Kesalahan demi kesalahan begitu banyak aku lakukan pada emak dari dulu sampai sekarang. Aku tahu emak sudah pasti memaafkan tapi aku ingin sekali mengucap maaf pada emak sambil menatap wajah tuanya namun tak pernah mampu. Mungkin karena kesalahan ku pada emak tak terhitung banyaknya.
Teringat kata-kata emak yang sering emak lontarkan “emak paling sayang kepada mu nak di antara anak emak yang lain. Karena kamu satu-satunya harapan emak yang bisa diandalkan”. Bagiku kata-kata itu hanyalah suatu cara emak untuk memotifasiku bahkan mungkin sebatas pujian rasa kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Tapi tatapan emak begitu menyentuh hatiku saat itu rasanya begitu nyata dan tulus untuk ku.
Pertanyaan dan pernyataan emak semakin membelenggu membuatku berfikir penyebab dari sebuah akibat. Namun aku selalu tak juga aku dapatkan jawaban dari kejadian itu.

Sampai ahirnya aku harus memejamkan mata menghadirkan emak dalam hayalku:

Emak …….
Kini emak harus tahu, aku sangat sayang padamu mak …..
Cacian-cacian itu ku lontarkan bukan untuk menyakitimu mak atau membenarkan diri dari kesalahan ku namun hanya karena aku tak mampu mengucap kata sayang didepanmu …..
Aku selalu tidur bukan karena kemalasan ku, aku hanya mencoba melupakan semua masalah ku karena tak pernah mampu membahagiankan emak …..
Maafkan aku ya mak karena sampai saat ini belum bisa memberikanmmu apa-apa meski hanya sepatah kata “sayang”…..
Mak,, rasanya aku ingin menjadi bayi kembali agar aku tetap dalam pelukan hangatmu ……
Aku ingin sekali bermain bersama emak tanpa harus malu dan rasa gengsi seperti kecilku dulu.
Aku sadar saat ayah mengajariku arti ketegasan sampai aku menangis tersendu-sendu, emak mengajariku arti cinta dengan pelukan ….
Aku ingin emak masih sehat selalu agar aku bisa memperdengarkan kata maaf pada emak saat kita jumpa nanti ……

         Betapa emak begitu perduli dan selalu tahu dengan keadaan ku meski selalu ku tutup-tutupi. Aku sadar aku tak akan mampu membayaranya bukan karena tak berharga tapi karena harganya sungguh luar biasa. Semakin sulit jika harus ku takar untuk ku kutukar kebaikan-kebaikan emak padaku. Namun ahirnya aku sadar jika aku tak akan pernah mampu kembali seperti dahulu kala dimana aku bisa bersenang-senang, bermain, menangis dan memeluk emak tanpa ego dan malu. Saat emak sudah tak bisa lagi berdiri, mungkin tak akan ada yang perduli membantu emak untuk berjalan. Saat emak tak dapat lagi menyuapkan nasi sendiri, mungkin tak aka nada yang sudi untuk menyuapi emak untuk makan. Saat itu aku harus tumbuh dewasa agar setidaknya emak tidak kesulitan mengerjakan apapun yang emak mau.

         Begitu sering aku bersopan santun dihadapan orang tua lainnya yang tidak aku lakukan kepada emak. Begitu mudah aku aku mengucap kata maaf kepada orang tua-orang tua lainnya tapi tidak kepada emak. Bukan karena aku tak menghormati emak seperti aku menghormati mereka, tapi karena kasih sayang aku kepada emak tak ada yang menyerupainya.

Kesabaran emak begitu kuat dan hebat


-          Hamim Sta -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar